CUCU ANGLING DHARMA YANG JADI JAKSA DIDIK FARKHAN ALISYAHDI SH.MH. Saat itu ia berpikir, ilmu hukum ia perdalami secara formal di fakultas, sementara ilmu jurnalis akan ia “serap” secara informal dengan aktif di Pers mahasiswa. Makanya sambil kuliah ia aktif di majalah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang bernama MANIFEST. Di Majalah MANIFEST pertama ia menjadi reporter. Tahun kedua naik jadi anggota Dewan Redaksi, kemudian Pemimpin Redaksi hingga terakhir menjelang lulus ia menjabat “pimpinan” puncak sebagai Pemimpin Umum. Pasca lulus kuliah, 1993 ia masih tetap konsisten dengan cita-citanya pengin jadi Wartawan. Dengan bekal ilmu formal, sebagai Sarjana Hukum dan ilmu non formal jurnalistik ia melamar di koran harian Jawa Pos Group. Setelah proses tes, ia diterima sebagai Calon Reporter dan ditempatkan di wilayah Kabupaten Bojonegoro, daerah tempat kelahirannya. Cita-citanya menjadi Wartawanpun terkabul. Dalam evaluasi calon reporter ia s...
Postingan populer dari blog ini
MONSTER SANGATTA
Setiap pergi ke daerah wisata atau kalau teman pergi ke luar negeri, saya selalu pesan oleh-oleh kaos oblong yang bergambar khas daerah atau negara tersebut. Mulai kaos oblong gambar Vespa Bandung, Sepeda onthel Yogya, Kepala Singa Singapore, Joger Bali, Tower Petronas Kuala Lumpur, Gajah atau pagoda Thailand, Jembatan Suramadu Surabaya, Menjagan, Istana Bogor, Dayak Kalteng saya punya. Maklum penggemar kaos oblong. Begitupun sebaliknya, teman-teman dan keponakan saya sering minta kaos oblong bila saya yang pergi ke daerah wisata. Makanya begitu saya menginjak bumi Etam di Sangatta awal Pebruari 2012, saya pun penasaran mencari kaos oblong khas Kaltim di Sangatta. Untuk oleh-oleh. Mencari di Toko-toko pakaian di Sangatta, nihil. Tidak ada. Pikir saya, “seharusnya monster buaya Sangatta harus ditingkatkan derajatnya bukan lagi dianggap “musuh”, harus dijadikan ikon Sangatta dalam kaos,”pikir saya. Seketika saat pulang ke Jawa saya datangi Teman saya yang punya kon...
KISAH PERJALANAN PAK JAKSA
SANGATTA: SANGAT MENDERITA ATAU SANGAT “A”syik? Akhir 2011 lalu, saya mendapat SK pindah ke Sangatta. Hati berbunga-bunga karena kepindahan ke kota itu adalah promosi jabatan. Tetapi hati saya juga dibayangi “penasaran”. Karena belum pernah sekalipun kaki ini menginjak bumi Etam --Sebutan bumi Kalimantan Timur--. Apalagi ke kota Sangatta. Sebuah kota yang namanya lebih cocok nama kota di Jepang. Didik Farkhan & Istri Bergegas saya keluarkan dan buka tablet Galaxy Tab ke menu google Map s. Dari google Maps ternyata Sangatta tidak “terdetec”. Alias tidak muncul. Saya baru “ngeh” Sangatta setelah lihat peta “manual” alias Atlas milik anak saya. Ternyata kalau dilihat di peta, Sangatta letaknya tidak jauh dibawahnya “kepala” pulau Kalimantan. Saya “pelototi” jalan kearah Sangatta setelah “start” dari Balikpapan harus menuju Samarinda, lalu ke Bontang dan baru Sangatta. Setelah tahu posisi kota, rasa penasaran saya berlanjut untuk mengetahui “isi” dan potens...
Komentar
Posting Komentar